Kamis, 25 Januari 2018

Sepasang Tangan Malaikat


            Aku tahu hari ini pasti sangat melelahkan. Kutarik lagi selimut yang membungkus tubuhku, berusaha untuk bangkit dari pembaringan yang benar-benar nyaman ini. Matahari pagi menerobos melalui jendela nako. Kurentangkan tanganku dan menarik napas dalam-dalam, melakukan gerakan-gerakan senam ringan. Kulirik jam dinding. Sudah menunjukkan pukul 06.00. Tidak ada banyak waktu lagi. Aku harus bergegas mandi dan bersiap diri
            Lima tahun sudah aku mengabdi di sekolah ini. Sebuah lembaga pendidikan yang mengasuh anak-anak usia prasekolah. Anak-anak usia 4-5 tahun. Banyak suka dan duka sebagai guru. Aku menikmati semua hari-hariku sampai suatu hari datanglah Benaya, Kesibukanku seolah bertambah
dua kali lipat sejak kehadirannya.
            Setiap hari ada saja murid yang melapor "Bu Guru, Benaya menarik rambutku!!” Lagi-lagi Cindy protes, ketika tangan Benaya menjambak rambutnya.

"Bu Guru, Benaya meludah di mejaku!!”

“Bu Guru, tanganku... tanganku... digigit Benaya, Sakit, Bu.”

"Bu Guru, Benaya pipis di kelas. Bu..”

Dan masih banyak lagi teriakan-teriakan protes dari murid-murid di kelasku. Rasanya, aku kehabisan akal untuk menghadapi si pendatang baru, Benaya.
            Usianya sudah enam tahun. Namun, perilakunya tak beda dari anak usia 4 tahun. Aku harus memberikan perhatian ekstra kepadanya. Sengaja kutaruh tempat duduknya di sebelahku, supaya
gampang kuawasi. Cukup melelahkan memang. Sementara muridku yang lain juga butuh perhatian.

            "Ben, jangan meludah sembarangan!”setengah berteriak aku menegur, sambil memandanginya. Namun, terlambat, cairan dingin dari mulut Benaya sudah pindah dan menempel di meja. Beberapa muridku tertawa melihat aku kebingungan mencari tisu. Perasaanku bercampur aduk antara kesal dan belas kasihan.

"Dihukum saja, Bu! Biar tahu rasa!” Alex berdiri dan memudingkan jarinya pada Benaya yang mendorong dorong meja tanpa rasa bersalah.

            "Sekarang Ibu Guru ingin kalian menggambar bebas.” Kalian boleh gambar apa saja yang kalian suka dan jangan lupa untuk diwarnai." Metode ini kulakukan supaya aku punya kesempatan berdua
dengan Benaya. Aku menarik Benaya mendekat. Matanya menarinari menatap tembok kelas dari sisi yang satu ke sisi yang lain. Aku tidak kehabisan akal. Kedua tanganku memegang wajahnya.

"Ben, Benaya, bu Guru mau bicara Tatap mata Bu guru."


            Aku mencoba membuat ia fokus. Usahaku sia-sia, karena bolamata Ben masih saja menari liar ke sana-kemari, seolah mencari suatu yang hilang di kelas.

"Ben... Benaya coba lihat Bu Guru."
Tetap tak berhasil, Ia siap beraksi dengan kenakalannya. “Tidaaak Been!!” aku membentaknya. Ia terkaget. Kali ini matanya memandangiku, namun hanya sekejap dua detik saja, dan ia kembali asyik dengan dunianya sendiri.

            Bel panjang berbunyi, waktunya berpisah dengan murid-muridku. Satu per satu mereka menyalami dan mencium tanganku,

“Terima kasih Bu Guru sampai bertemu besok pagi”

            Dera melompat-lompat kegirangan melihat papanya berdiri diambang pintu dengan senyum mengembang dan tangan terbuka lebar, siap menangkap bidadari kecilnya. Suasana sekolah sudah lengang, ingin rasanya aku cepat-cepat ke warung sebelah untuk meneguk segelas es jeruk. Namun, niat ini kuurungkan. Benaya masih di kelas, meringkuk di bawah mejanya dia murid yang belum dijemput, dan selalu begitu setiap hari.
            Aku bersandar di dinding kelas, memandangi makhluk kecil yang asyik sendiri dengan dunianya. Otakku berpikir keras, bagaimana cara mendapatkan perhatian atau tatapan matanya.
Aku beringsut maju mendekatinya, berlutut di kolong meja. Tangan kananku terulur menjamah tubuhnya.
“Aduh...!"
Sialnya gigi geligi Ben setajam pisau menggigit tanganku. Perihnya bukan main. Lengan
kananku seperti mau robek. Ingin rasanya menjewer kupingnya. Namun, peraturan sekolah tidak memperbolehkan guru menampar, menjewer, memukul,  atau memberikan hukuman fisik lainnya.

“Selamat siang. Bu Guru. Maaf, saya terlambat lagi.”

Seperti yang sudah-sudah,seorang wanita tua berdiri di ambang pintu kelasku. la terlihat pucat dan sangat letih. Sebuah senyum yang dipaksakan menghias bibir keriputnya. Tangan kanannya mengapit keranjang berisi dagangan yang tidak laku terjual. Kupicingkan mataku untuk menyelidiki apa saja yang ada dalam keranjang itu. Beberapa bumbu dapur, roti tawar dan biskuit, juga dua mip margarin.

"Maaf, Nek, besok-besok tolong jemput Ben tepat waktu, ya."

Kupaksa untuk tersenyum dan bersikap ramah pada wanita itu. Aku membalikkan tubuhku, membungkuk mencari Benaya. Tidak ada. Ben hilang? Tak mungkin. Telingaku cukup tajam untuk mendengar dengusan napas anak kecil dari arah kolong meja guru. Kali ini aku berhasil meraih tubuh kecil itu dan menyerahkan kepada wanita tua yang menjemputnya. Seperti yang sudah-sudah,
wanita tua itu menjabat erat tanganku dan mengucapkan doa singkat, “Tuhan memberkati Anda, Ibu Guru."

            Segelas es jeruk yang segar di warung dekat sekolah seolah-olah mengembalikan energiku yang terkuras habis. Aku senang karena bisa lalui hari ini dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Namun, ada perasaan gagal yang merayap di sudut hatiku. Siapa lagi yang membuat perasaanku seperti ini kalau bukan Benaya? Aku cukup idealis dan bisa dikatakan sangat perfeksionis. Impian ku bagi anak didikku adalah supaya mereka menjadi anak-anak yang luar biasa.Aku percaya, meskipun rata-rata berusia 4-5 tahun, mereka dapat menjadi anak-anak yang membanggakan. Itu sudah terbukti. Anak-anak asuhanku semuanya berprestasi. Aku sering menerima laporan dan kabar menggembirakan dari orang tua mereka mengenai perkembangan yang positif.  Kecuali yang satu ini, Benaya jujur saja, ada perasaan gagal. Bagaimana tidak, jangankan bisa duduk manis di kelas. Untuk membuat Benaya menatap ke arahku saja, aku tak mampu

“Bu guru, Benaya kenapa nggak masuk?"

            Sinta, satu-satunya murid di kelasku yang suka membawa cokelat untuk Benaya, melontarkan pertanyaan tentang teman baiknya itu. Memang, sudah tiga hari Ben tidak masuk. Pertanyaan Sinta
mengusikku, bahkan seperti menamparku. Aku bahkan seolah tak peduli dengan ketidakhadirannya. Aku menikmati kelasku yang nyaman, menyenangkan, tanpa ada si trouble maker itu. Tiba-tiba naluri seorang ibu mengusikku. Apa yang teradi dengan Ben? Mengapa Ben tidak masuk? Apakah mungkin ia sakit? Ingatan kepada Benaya terus terbayang, sampai akhirnya aku mengambil keputusan untuk menjenguknya sepulang sekolah
            Kulirik alamat yang tercantum di genggaman tanganku untuk memastikan apakah benar rumah tua berpagar bambu itu adalah tempat kediaman Benaya. Aku menyapu pandanganku ke arah rumah tua itu. Ada beberapa pot bunga yang sudah layu menghias teras yang sempit. Kelihatannya rumah itu kurang terawat, Rumput-rumput liar hidup di sana-sini.
            Tiga kali ketukan di pintu tak ada sahutan dari dalam
“Ben…Benaya…”
            Tetap hening. Aku penasaran. Pintu dengan mudah kudorong. Tidak dikunci. Kakiku melangkah memasuki ruang tamu yang sempit, Sepasang pengantin muda tersenyum bahagia dalam bingkai foto hitam putih. yang digantung Yang pria itu wajahnya mirip Benaya,  dan mata wanita itu persis mata Benaya. Di mana mereka sekarang?
            Kain pintu kamar sedikit terkuak, aku dapat mengintip ke dalam kamar. Astaga! wanita tua itu terbaring lemah dengan sehelai handuk kecil di atas dahinya. Benaya kecil sudah pulas di sampingnya

            “Nek, Nenek kenapa?" Kusentuh lengannya, panas. Jantungku berdegup kencang, Kuraih ponselku menghubungi rumah sakit terdekat. Beberapa menit kemudian, kami sudah berada dalam mobil ambulans. Wanita tua itu terbujur pucat pasi. Benaya tertidur pulas dalam pangkuanku

            Seperti petir di siang hari ketika dokter mengabariku mengenai keadaan wanita tua itu. Air mataku mengalir mengantar kepergiannya. la telah pergi untuk selamanya, menyusul anak dan menantunya.
            Peristiwa itu telah berlalu tujuh tahun silam. Sejak hari itu kuputuskan untuk mengadopsi Benaya menjadi anakku. Hari-hari panjang kulalui dengan penjuangan menolong Benaya untuk dapat berbicara, menibimbingnya untuk dapat fokus, menatap mata lawan bicara, menolongnya membuang kebiasaan meludah, dan tentu saja membimbingnya untuk dapat menjadi anak yang  berbudi pekerti luhur.
            Enam tahun pertama dalam diri Ben, telah dilalui dengan tragedi demi tragedi. Ben kehilangan ayahnya pada saat ia berusia dua tahun. Ibunya menyusul ayahnya ketika Ben berusia empat tahun. Neneknya dengan susah payah berjuang agar Ben tetap hidup dan bersekolah. Pengalaman masa lalu Ben yang pilu membentuk pribadinya menjadi anak yang bermasalah, haus kasih sayang.
Dan dicap sebagai si pembuat masalah pula.
            Masih jelas dalam kenanganku, suatu malam ketika ia terjatuh dari tangga. la histeris, dan aku panik. Aku memeluknya dan menangis bersama-sama."Bunda sayang Benaya…Bunda sayang Benaya…” Perkataan itu kuulangi terus-menerus dari bibirku. Dan untuk pertama kalinya Benaya menatap lama wajahku, dan mengulang ucapanku, "Bunda sayang Benaya..”. Ia memelukku erat-erat, dan aku tahu malam itu aku telah menang, Aku telah mendapatkan hati Ben.
            Kemarin adalah hari ulang tahunku. Menjelang tidur malam. Ia mengetuk pintu kamarku.
“Selamat ulang tahun, Bunda.” Bicaranya lirih,  Ia mendekapku erat dan dadaku yang basah oleh air matanya.
            Kupandangi langit-langit kamarku. Ingatanku seakan pergi ke masa silam. Kulihat Benaya kecil seorang diri dalam kamar gelap, lalu sepasang tangan terulur dan membuatku menariknya dari ruang gelap itu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar