Sabtu, 30 Mei 2020

1998


Tahun ini, 1998, Soeharto terpilih kembali menjadi presiden republik Indonesia. Bukankah begitu memuakkan, 30 tahun lebih dengan pemimpin yang sama, benar memang sistem pemerintahan ini berjalan baik baik saja, namun sangking lamanya tambah amburadul tak karuan. Indonesia yang sekarang mengalami badai krisis ekonomi , pengangguran merajalela, serta meningkatnya kurs dolar, hal ini sangat disayangkan dan menambah penderitaan rakyat kecil. Jujur, rakyat seperti kami merasa tidak puas terhadap pemerintah yang cenderung bekerja lamban, pemerintah yang semena-mena, belum lagi kasus korupsi yang mulai merajalela. Setelah terpilihnya Soeharto mahasiswa dari berbagai universitas dari  seluruh tanah air tercinta ini berkumpul lalu menyelenggarakan rencana untuk demonstrasi besar besaran. Kami hanya ingin diadakannya pemilu ulang dan tindakan tegas pemerintah untuk mengatasi badai krisis yang mengancam negara kami.
12 Mei 1998 dimulai sekitar pukul 11.00 WIB. Bertempat di Gedung Syarif Thayeb, ribuan mahasiswa bersama sejumlah dosen, pegawai, dan alumni berkumpul untuk mengikuti mimbar bebas. Pada saat itu, semua mahasiswa masih terkonsentrasi di dalam areal kampus. Kami mahasiswa, hanya ingin menyampaikan aspirasi kami, ketika aparat mengajurkan kami untuk berdemonstrasi di dalam kampus, bahkan kami turuti. Namun, apa yang kami lakukan hanyalah sia sia, tidak di dengar, tidak digubris.
Aksi mimbar bebas diawali dengan penurunan bendera setengah tiang yang diiringi lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan bersama peserta demonstran. Tak lupa mereka mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda keprihatinan terhadap kondisi negara yang tengah dalam kesulitan. Kemudian, aksi berlanjut dengan mendengarkan orasi dari dosen dan mahasiswa. Pada saat bersamaan, aparat keamanan mulai terlihat di jalan layang di luar kampus. Sementara, di dalam areal kampus, rencana untuk mulai bergerak ke luar  terus dimatangkan.
Menjelang pukul 13.00 WIB, massa mahasiswa mulai keluar dari gerbang kampus. Kami berjalan perlahan dan teratur dengan tujuan Gedung DPR-MPR di kawasan Senayan yang tak jauh dari lokasi. Namun, aksi kami ditahan aparat di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat atau sekitar 300 meter dari Kampus Trisakti. Dua baris aparat bertameng lengkap membuat mahasiswa tak bisa meneruskan perjalanan. Sudah pasti kami dihadang dengan aparat lengkap dengan senjata dan baju anti pelurunya. Bila mereka melawan jelas kami kalah, tapi kami tidak takut untuk membela keadilan. aku tidak peduli lagi, dengan siapa yang aku hadapi, dengan resiko yang aku terima nanti. Mati atau tidak semua ada ditangan tuhan
Aku melihat beberapa perwakilan Senat Mahasiswa Universitas Trisakti kemudian bernegosiasi dengan pihak Komando Distrik Militer Jakarta Barat dan Kepolisian Resor Jakarta Barat. Hasilnya, pihak aparat tegas menolak aksi kami karena dikhawatirkan bakal membuat kemacetan dan gangguan keamanan. Kami jelas kecewa dengan hasil negosiasi tersebut dan tetap mendesak untuk melanjutkan perjalanan. Sementara itu, aparat keamanan terus memperkuat diri. Empat truk pasukan pengendali massa terlihat datang di lokasi tertahannya rombongan mahasiswa Trisakti.
Merasa tak ada lagi pilihan, mahasiswa akhirnya menggelar mimbar bebas di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Melalui pengeras suara, Dekan Fakultas Hukum Trisakti, Adi Andojo meminta agar mahasiswa menjaga keamanan dan tidak berbuat anarki. Sementara di sisi lain, aku dan mahasiswi Trisakti lain tetap membagi-bagikan bunga kepada pengemudi yang lewat serta kepada aparat keamanan yang bertugas. Situasi ketika itu sangat tenang dan cair. Selain mahasiswa, sejumlah warga juga terlihat bergabung dengan kerumunan.
Pukul 14.00 WIB, tak ada perubahan. Meski kami terus mendesak agar diizinkan menuju Gedung MPR, aparat keamanan tak mengizinkan. Hujan pun mulai turun, tetapi kami tetap bertahan sembari meneriakkan yel-yel memberi semangat orator yang sedang beraksi di mimbar bebas. namun hujan menambah semangat dan keinginan kuat kami seakan menghilangkan rasa dahaga yang membara. Kami bahkan rela mati kelaparan, kelelahan hanya untuk membela bangsa ini. Kami ingin reformasi! Bebaskan kami! Kami hanya ingin keadilan!
Pada titik ini, sekitar 500 petugas keamanan gabungan dari berbagai kesatuan yang bersenjata lengkap berjaga-jaga di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat, di pagar pembatas Jalan S Parman, dan jalan tol, serta di bawah jalan layang Grogol. Menjelang pukul 17.00 WIB, disepakati agar kami kembali ke kampus dengan tertib. Ribuan mahasiswa lain kemudian mulai beranjak meninggalkan lokasi. Semuanya berlangsung tertib. Bahkan, pihak kepolisian sempat mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa karena sudah bersikap baik selama unjuk rasa.
Namun, situasi itu rusak oleh peristiwa tak diduga. Diakui, dalam perjalanan kembali ke kampus, sempat terdengar saling ledek dan cemooh antara mahasiswa dan aparat keamanan, tetapi bisa diredam. Bahkan, sebagian besar mahasiswa sampai di dalam kampus tanpa ada masalah. Aku sangat bersyukur hari ini. Semoga kedepannya aksi ini membuahkan hasil yang kami inginkan
Waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB, ketika sebagian besar mahasiswa Trisakti yang ikut unjuk rasa sudah berada di dalam kampus. Dengan tertib, kami terus memasuki gerbang kampus yang penuh sesak oleh antrean mahasiswa yang akan masuk. Tanpa jelas penyebabnya, tiba-tiba dari arah belakangku tepat atau tepatnya barisan aparat keamanan yang berjaga di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat terdengar letusan senjata. Tak lama kemudian, gas air mata juga beterbangan ke arah kerumunan mahasiswa yang masih berada di luar kampus. Kepanikan pun terjadi. Aku berlari entah kemana mencari perlingdungan.
Selain panik karena bunyi letusan senjata dan gas air mata, tak sedikit pula yang ketakutan karena serangan fisik dari aparat seperti memukul dan menendang. Bahkan, Ketua Senat Mahasiswa Universitas Trisakti Hendra terkena tembakan peluru karet di bagian pinggang. Dalam kepanikan akibat bunyi letusan senjata dari segala arah itu, kami terus berusaha masuk ke dalam kampus. Sementara, sebagian mahasiswa lainnya berusaha membantu rekan-rekannya yang terluka karena terinjak kerumunan massa atau karena pukulan aparat.
Pada saat itu, tidak jelas dari mana saja tembakan berasal karena seluruh sisi sudah dijaga aparat bersenjata. Dari sejumlah saksi mata, bisa diketahui aparat yang berada di atas jembatan layang mengarahkan senjata mereka ke dalam kampus. Rombongan pasukan bermotor yang kemudian datang juga mengambil posisi di atas jembatan layang dan mengarahkan tembakan ke dalam kampus. Sementara, sebagian aparat yang ada di bawah menyerbu dan merapat ke pintu gerbang kampus serta mengambil posisi siap menembak.
Tembakan dan lemparan gas air mata yang mengarah ke dalam Kampus Trisakti itu baru mereda pada pukul 19.00 WIB. Sejumlah mahasiswa tergeletak bersimbah darah. Ceceran darah serta pecahan kaca terlihat jelas. Tangisan ketakutan juga masih terdengar dari sejumlah sudut kampus pada malam itu.
Dalam situasi yang masih tak menentu itu, para mahasiswa nekat membantu serta mengevakuasi rekan-rekannya yang terluka ke Rumah Sakit Sumber Waras yang tak begitu jauh dari lokasi kampus. Beberapa mahasiswa lain yang terkena luka ringan dievakuasi kedalam kampus. Beruntungnya aku tidak terluka. Malam itu, didalam kampus, kami seperti kucing kucingan dengan aparat, bersembunyi seperti tertangkap basah mencuri.
Ketika itulah diketahui, tiga orang mahasiswa yang tewas di tempat (satu orang lagi dinyatakan tewas di rumah sakit) dan 15 orang terluka serta cedera. Mereka yang tewas adalah Elang Mulya Lesmana, mahasiswa jurusan arsitektur kelahiran 5 Juli 1978. Hafidin Royan atau Idhin, mahasiswa jurusan teknik sipil kelahiran Bandung, 28 September 1976. Hendriawan Sie, mahasiswa jurusan manajemen asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Kemudian Hery Hartanto, mahasiswa jurusan teknik mesin angkatan 1995. Semoga tuhan membalas segala usaha kalian dan kebaikan kalian
Rasa bersalah pasti ada, pelaku yang entah siapa belum ditemukan. Semua saling tuduh menuduh. Begitu tragis, sampai akupun tidak dapat membendung airmata, puluhan bunga diberikan. Menghantarkan mereka menghadap sang kuasa.
Tanggal 13 Mei kepolisian masih berupaya membarikade kampus-kampus di Jakarta untuk mencegah mahasiswa keluar. Sebagian yang berhasil menerobos, berkumpul di berbagai titik untuk kemudian bergerak ke arah Senayan. Momentum terbesar adalah ketika ribuan mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR. Kabarnya, Amuk massa dalam bentuk penjarahan dan pembakaran terjadi di penjuru Ibu Kota. Hal yang sama kemudian menjalar ke berbagai kota di Indonesia.
Hari berikutnya, 14 mei 1998. Tragedi ini memicu kerusuhan yang sangat besar, kami termakan amarah lantaran mendengar kabar mahasiswa yang tewas ditembak, massa kembali melakukan aksi penjarahan di beberapa sudut kota. Yang terparah terjadi di kawasan Klender, di mana massa membarikade dan membakar gedung Yogya Department Store. Sekitar 1000 orang yang terjebak di dalam tewas seketika.
Amien Rais menjadi salah satu tokoh utama reformasi. Dia juga mengumpulkan sejumlah tokoh dan mendesak agar Presiden Soeharto mundur. Amien Rais menggelar aksi massa dengan long march di Monas tanggal 20 Mei 1998. Kira kira puluhan ribu orang dari berbagai elemen diperkirakan akan menghadiri konsolidasi nasional tersebut.termasuk aku pada saat itu. Parahnya lagi, Presiden Soeharto masih enggan turun!  Dia berjanji akan turun dalam Pemilu yang digelar tahun 2000. Namun Amien Rais besrta kawan lainnya merasa waktu 2 tahun terlalu lama. Dalam waktu 6 bulan, Soeharto harus lengser!
Rencana Amien Rais menggelar long march mendapat tantangan dari Orde Baru. Kami bersiap diri untuk itu. Panglima ABRI, Jenderal Wiranto meminta Amien Rais membatalkan rencana long march. Pada tanggal 18 Mei 1998, Wiranto juga mengimbau para masyarakat tak berkumpul di Monas. Wiranto meminta masyarakat  untuk mengingat kerusuhan yang membumihanguskan Jakarta. Kami dihimbau jangan sampai karena terprovokasi sekelompok orang, peristiwa itu terulang kembali. Banyaknya massa yang berkumpul di satu titik sangat potensial memicu kerusuhan dan jatuh korban jiwa. Aparat menutup seluruh akses jalan menuju Monas. Tentara bersenjata lengkap, bermuka garang, lengkap dengan panser dan pagar berduri terlihat di mana-mana.
Dengan alasan keamanan, Amien Rais kemudian membatalkan rencana long march itu. "Saya mengatakan, 'Saudara-suadara, para peserta yang akan datang ke Monas untuk syukuran reformasi, kalau ada orang yang paling kecewa dengan apa yang saya katakan adalah saya sendiri'," kata Amien. "Karena kita sebaiknya membatalkan syukuran reformasi di Monas itu agar tidak terjadi pertumpahan darah. Sebagai gantinya mungkin kita berkumpul di MPR dan di sana bisa lebih terawasi," ucap Amien.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional digeser ke Gedung DPR/MPR yang dikuasai ribuan mahasiswa yang telah bersiap mebawa spanduk mereka. Amien Rais saat itu jadi bintang besar. Dia dielu-elukan mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto segera mundur dari jabatannya. Amien lah satu-satunya tokoh nasional yang diizinkan mahasiswa masuk dari gerbang utama DPR.
"Presiden Soeharto sudah kehilangan legitimasinya karena rakyat sudah tidak percaya lagi kepadanya, sehingga hari-harinya sudah bisa dihitung. Karena itu, tetap jaga terus persatuan dan kesatuan. Jangan mau dipecah-pecah," kata Amien disambut teriakan gegap gempita mahasiswa.
21 Mei 1998, para mahasiswa berhasil menduduki gedung MPR tanpa perlawanan dari aparat keamanan. kami berjalan dari kampus menuju gedung. Langit Jakarta benar benar penuh dengan asap, aroma dari ban yang dibakar sekan akan ingin membunuh indera penciumanku. Diktatur yang berkuasa selama 32 tahun itu menyisakan republik yang carut marut oleh kasus korupsi dan pelanggaran HAM. Sesaat setelah pengunduran diri Suharto, Wapres B.J. Habibie perjalanannya membawa Indonesia kembali ke pangkuan demokrasi.
Di Istana Merdeka Soeharto tak mampu mengendalikan kerusuhan yang terjadi. Beliau gagal mendapat dukungan dan para ulama dan tkoh masyarakat. Belum lagi disusul 14 menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita berkumpul. Mereka kemudian membuat pernyataan tertulis yang isinya menolak untuk bergabung dalam kabinet hasil perombakan, atau masuk dalam Komite Reformasi. “Soeharto kapok jadi presiden” kutipan itu tersebar dengan cepat paginya, Beliau mundur lalu digantikan dengan wakilnya, B. J. habibie. “Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti…” kami semua yang menyaksikan dengan tv seadanya, bersorak sekencang kencangnya. Kami merasa puas, sukses, dan entahlah. Hari ini benar benar sangat bersyukur pada Tuhan. Kami sujud. Semua mahasiswa berkumpul menuju gedung MPR dengan bersorak sorai membawa bendera. Kalimat Indonesia merdeka bergema dimana mana seakan penjajah baru saja mengangkat kaki dari bumi kami.